Perawat

Sama seperti bidan, perawat juga salah satu profesi favorit orang kangean. Orang-orang pengen anaknya sekolah perawat atau kebidanan bahkan kedokteran.

Keterbatasan tenaga medis dan pasien yang terlalu “manja” (menurutku) membuat perawat desa (perawat yang bertugas di desa) sering keluar “kandang” untuk menangani pasien. Tidak jarang pasien dengan hanya keluhan pusing minta diperiksan dan dikunjungi kerumahnya. Padahal sampai dilokasi hanya cek darah dan diberikan obat. Terkadang hal seperti ini membuat para perawat malas untuk mengunjungi pasien yang seperti ini. Bukan karena tidak patuh pada etika medis, tetapi hal seperti ini bisa membuat mereka para pasien semakin manja. Jika biasanya pasien yang datang dan antri ke tempat praktik perawat (orang bilang mantri), kali ini antrian dilakukan dirumah masing-masing dan perawatlah yang mengunjungi mereka satu per satu. Belum lagi jika sang perawat sedang keluar kandang dan di tempat praktik sendiri sudah ada pasien yang menunggu. Miris memang, tapi begitulah kenyataannya. Baca lebih lanjut

Iklan

Bidan

Bidan adalah profesi yang ditekuni oleh beberapa keluargaku. Profesi ini menjadi favorit warga Kangean. Profesi ini sebenarnya sedikit “mengganggu” kehidupan seorang bidan tapi itu adalah amanah yang harus dijalankan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab. Mereka harus rela tidak pulang kerumah selama 24 jam demi menemani pasien yang akan melahirkanM. Masih untung jika melahirkan di tempat praktik sang bidan, kebiasaan masyarakat Kangean adalah ingin dikunjungi, melahirkan dan dirawat di rumah.

Aku mendengar, melihat, dan mengalami sendiri bagaimana kehidupan seorang bidan. Pada saat itu kira-kira pukul 2 dini hari, aku masih menonton tv sambil menunggu pertandingan bola. HP Mbakku berdering, aku pikir itu alarm atau sms tapi ternyata itu adalah sebuah panggilan telepon. Mbakku mengangkat telepon itu dalam keadaan mengantuk karena dia memang sedang tertidur pada saat itu. Aku lihat dia keluar kamar dan mencuci muka kemudian berangkat menuju rumah pasien karena si pasien akan segera melahirkan.

Tahlilan 1 Tahun Mbah & Buka Bersama

Kalau yang satu ini bukan sesuatu yang baru menurutku. Karena sudah ada sejak entah kapan, yang jelas itu sudah ada saat aku masih kecil. Satu hari aku berada di rumah, aku sudah ditunggu tahlilan alias haul 1 tahun mbahku (mungkin sudah tradisi) sekaligus buka bersama. Seperti biasa, aku diminta untuk membantu mempersiapkan acara sampai acara selesai. Ini aku anggap selesai.

Sesuatu yang aku perhatikan dari beberapa undangan dan yang aku alami sendiri adalah sesuatu yang orang sebut dengan “berkat”. Berkat adalah oleh-oleh yang biasa diberikan tuan rumah kepada tamu yang hadir. Aku merasakan ada persaingan tersendiri dari setiap acara buka bersama dalam memberikan berkat. Kalau dulu (waktu aku kecil) berkat yang diberikan biasanya berupa kue atau roti atau bungkusan makanan hasil buatan tangan sendiri. Tetapi sekarang orang berlomba-lomba memberikan berkat berupa sarung dan yang membuat telingaku agak kurang nyaman adalah saling membandungkan antara berkat dari satu acara dengan berkat dari acara yang lain. Berkat dari si A lebih bagus dari si B. Berkat si C begini, berkat si D begitu dan sebagainya. Aku merasa ini bukanlah sesuatu yang sehat karena ada indikasi riya’ dan pamer. Berharap kajadian ini tidak berkelanjutan.

Oleh-oleh mudik lebaran 2012 (Sambutan orang rumah)

Saat kapal yang aku tumpangi sudah bersandar, aku hanya menunggu di tempat dudukku. Karena barang bawaanku lumayan banyak dan aku malas membawanya sambil berdesak-desakan. Jadi aku memilih keluar saat penumpang sudah sepi. 10 menit aku menunggu, Mas ku datang dan langsung mengangkat barang-barangku, ternyata di luar sudah ada temannya yang menunggu. Aku tidak perlu susah payah lagi mengangkat barang-barangku. Aku hanya berjalan santai tanpa ada beban yang ku angkat..:)

Sesampainya dimobil, aku duduk dikursi belakang dan mulai menjawab pertanyaan seputar perjalanan yang diajukan padaku. 10 menit berlalu, aku sudah sampai dirumah orang tuaku. Melihat ke rumah, aku menjadi terharu. Beberapa saudara sudah berdiri di depan rumah untuk menyambut kedatanganku. Turun dari mobil, aku langsung mendapatkan pelukan hangat..:) senangnya… seakan tak ingin pergi lagi kalau sudah ingat sambutan itu…

Oleh-oleh mudik lebaran 2012 (Kapal Gratis)

Selain fenomena cuaca yang tidak menentu, ada fenomena yang sedikit membuat aku tertawa dan juga kesal kalau baca beritanya. Adalah fenomena tentang kapal gratis yang merupakan program dari Gubernur Jawa Timur, kami menyebutnya dengan Pak Karwo tidak sesuai dengan yang dijanjikan kepada calon pemudik. Kapal yang dijanjikan, menurut informasi yang aku terima adalah kapan dengan kapasitas 500 penumpang dengan 3 lantai. Tapi kenyataannya adalah, kapal yang didatangkan hanya berkapasitas 150 orang dan terbilang kapal kecil. Yang lebih mengecewakan calon penumpang adalah kapal sudah terisi sejak diberangkatkan dari pelabuhan Perak Surabaya, sehingga calon penumpang yang menunggu di Kalianget tidak banyak yang kebagian tempat dan lebih memilih untuk membahayakan dirinya dengan duduk di pagar kapal.

Kekecewaan para calon penumpang yang sudah sangat memuncak membuat mereka ingin melampiaskan kepada Bupati Sumenep yang juga hadir di labuhan pada saat itu. Mereka menuntut agar ada kapal lagi yang diberangkatkan ke Kangean pada hari itu. Mereke dengan bringasnya mengejar mobil bupati yang nyaris rusak di amuk massa. Tapi akhirnya, masalah teratasi. Kapal tambahan (tidak gratis) siap diberangkatkan walaupun masih menyisakan kecewa tapi yang terpenting adalah bisa berangkat menuju Kangean. Berita ini aku dapat dari keponakanku, kebetulan saat kejadian Aku sudah berada di pulau kelahiranku.

Oleh-oleh mudik lebaran 2012 (Kondisi Cuaca)

Sebelum Aku meninggalkan Bogor, kabar tentang kondisi cuaca antara Kalianget-Kangean memang sedang tidak menentu. Ketika aku berada di Sidoarjo, tepatnya pada hari sabtu, tanggal 11 Agustus 2012 ada kabar bahwa keberangkatan kapal hari Senin masih belum pasti, padahal tiket kapal suah ada ditangan.

Kapal yang akan aku tumpangi pada saat itu adalah kapan super cepat (untuk ukuran kapal ke Kangean) yang terbuat dari fiber yang memang tidak anti-ombak dengan waktu tempuh rata-rata hanya 3-4 jam. Berbeda dengan kapal penumpang lainnya yang lebih besar dan lebih berattapi kecepatannya yang lumayan membuat boring selama perjalanan 12 jam mengarungi samudra.

Aku tunggu sampai hari minggu. Jika memang kapal itu batal berangkat, aku harus membatalkan untuk segera ke Kalianget pada malam itu. Karena tidak mungkin aku berlama-lama di Kalianget yang aku sendiri merasa tidak nyaman berada di tempat itu. Karena tidak ada teman bermain juga tidak ada aktifitas lainnya. Selain itu, kantongku bisa terkuras kalu harus berlama-lama di tempat orang.

Akhirnya, kabar baik itu datang. Kapal siap untuk berlayar pada hari senin jam 09.00 WIB. Aku pun bergegas untuk meninggalkan Sidoarjo dan berangkat menuju Kalianget.

Tepat jam 9.00 WIB, kapal sudah mulai bergerak menjauh dari pelabuhan Kalianget. Dalam hati aku berdoa, semoga perjalanan ini aman, nyaman, dan tenang.

1 Jam pertama, aku tidak merasakan sesuatu yang membuatku tidak nyaman, walaupun sedikit oleng ke kiri dan ke kanan, aku anggap itu hal yang biasa aku alami saat naik kapal. 1 Jam berikutnya aku mulai merasakan kapal yang aku tumpangi terombang-ambing di tengah samudra. 1 jam berikutnya lagi alias 3 jam dari keberangkatan, aku merasakan kakiku basah (kebetulan aku duduk didekat jendela. Aku lihat, ternyata air laut sudah masuk ke kabin kapal. Penumpang pun banyak yang panik dan berteriak. Tidak hanya teriak karena panik, tapi banyak juga yang teriak karena muntah dan ada juga yang hanya terdiam (sebagian besar). Aku sendiri hanya terdiam berdoa dalam hati agar tetap dalam perlindungan Allah SWT.

Puncaknya sekitar jam 12.30 WIB, mesin kapal tiba-tiba mati ketika aku merasakan ada ombak besar yang menhantam kapal. Penumpang yang duduk dibelakangku berteriak “Allahu Akbar…”, aku sendiri juga kaget, karena pada saat itu aku sedikit tertidur, tapi beberapa detik kemudian mesin kapal kembali menyala dan 30-45 menit kemudian pulau Kangean sudah mulai terlihat dari atas kapal. Lega sekali rasannya…:)

Oleh-oleh mudik lebaran 2012

Mudik tahun ini agak berbeda, tidak seperti mudik lebaran sebelumnya. Mudik tidak hanya membawa rasa kangen terhadap keluarga, tapi ada misi kecil (tapi besar) yang aku bawa. Tapi bukan itu yang akan aku share disini. Aku hanya ingin berbagi mengenai beberapa hal, peristiwa, kebiasaan dan hal lainnya.

Ada beberapa hal yang aku perhatikan, diantaranya:

· Kondisi cuaca

· Kapal gratis

· Sambutan orang rumah

· Tahlilan 1 Tahun Mbah & Buka Bersama

· Bidan

· Perawat

· Signal

· Lebaran

· Pertanyaan saudara dan teman

· Libur Lebaran

o Bakar Ikan

o Kelapa Muda

· Kehidupan masyarakat

o Kelayan

o Si Bisu

o Si Taksi

· Oleh-oleh