Perawat


Sama seperti bidan, perawat juga salah satu profesi favorit orang kangean. Orang-orang pengen anaknya sekolah perawat atau kebidanan bahkan kedokteran.

Keterbatasan tenaga medis dan pasien yang terlalu “manja” (menurutku) membuat perawat desa (perawat yang bertugas di desa) sering keluar “kandang” untuk menangani pasien. Tidak jarang pasien dengan hanya keluhan pusing minta diperiksan dan dikunjungi kerumahnya. Padahal sampai dilokasi hanya cek darah dan diberikan obat. Terkadang hal seperti ini membuat para perawat malas untuk mengunjungi pasien yang seperti ini. Bukan karena tidak patuh pada etika medis, tetapi hal seperti ini bisa membuat mereka para pasien semakin manja. Jika biasanya pasien yang datang dan antri ke tempat praktik perawat (orang bilang mantri), kali ini antrian dilakukan dirumah masing-masing dan perawatlah yang mengunjungi mereka satu per satu. Belum lagi jika sang perawat sedang keluar kandang dan di tempat praktik sendiri sudah ada pasien yang menunggu. Miris memang, tapi begitulah kenyataannya.

Suatu hari, kakakku yang seorang perawat sedang mengalami gangguan otot karena kebanyakan makan daging, sehingga tidak begitu lancar saat berjalan. Jangankan mengendarai sepeda motor, jalan kaki saja masih agak “reot”. Sore itu, seorang yang mengendarai sepeda motor datang ke rumah dengan mengatakan bahwa ada yang membutuhkan pertolongan. Karena alasan kondisi kesehatan kakakku menolak dan memintanya dibawa saja ke rumah sakit jika memang sudah agak parah. Dia memaksa dan akhirnya kakakku menyanggupi ba’da magrib di jemput lagi karena sedang tidak bisa mengendarai sepeda motor. Belum 10 menit, datang lagi orang yang lain dengan maksud yang sama. Terlibat sedikit obrolan dan kakakku menyiapkan alat untuk segera ke rumah si calon pasien. Setelah seluruh perlengkapan yang kemungkinan akan digunakan sudah siap, maka berangkatlah menuju rumah si calon pasien. Tidak lebih dari 30 menit kemudian sudah diantarkan lagi. Katanya harus diinfus dan perlu antibiotik. Ba’da magrib berangkat lagi dengan membawa alat infus. Tidak hanya disitu, kakakku harus mengontrol beberapa jam sekali guna melihat perkembangan si pasien. Jika ada keluhan, kakakku langsung berangkat meskipun itu jam 11 malam.

Ada lagi pasien yang katanya tidak bisa menggerakkan kakinya. Ini berbeda dengan yang sebelumnya karena si calon pasien ada di pulau sebelah (mamburit) dan untuk sampai kesana harus menggunakan perahu kecil dengan waktu tempuh sekitar 20-40 menit. Sore itu aku ikut mengantarkan ke tempat pasien sekalian jalan-jalan pikirku. Tetapi sesampainya di pantai, mendadak jadi males karena air lagi surut yang artinya aku harus berjalan melewati jembatan yang sudah usang atau lebih tepatnya susunan batu. Kami berjalan menyusuri bebatuan itu satu demi satu, lirik kanan kiri untuk menemukan mana batu yang layak pijak agar tidak terpeleset. Lima belas menit kemudian kami tiba di kapal kecil (perahu) dan betapa tersiksanya telingaku saat mesin kapal dinyalakan. Sekitar 30 kami tiba di pulau mamburit dan langsung ke rumah pasien. Selesai menangani pasien yang dimaksud, datang 2 orang yang memang sengaja datang untuk sekalian berobat. Entah memang sudah menjadi kebiasaan atau sudah sugesti mereka, mereka datang untuk minta di suntik hanya karena badan pegal-pegal dan agak kurang enak badan.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: