Aku tersenyum ketika Ia Murka


Aku merebahkan jiwaku di atas mayapada ini
berharap bisa tertidur pulas
perlahan aku pun mulai pejamkan mata ini
tp tiada daya walau penuh upaya

ingin aku berlari mengejar letihku
meloncat tinggi ke langit untuk mencapai letihku
tp tak ada yang bisa aku temui
hanya bisa terdiam dan tertatih

dia pun datang dengan penuh amarah
menghampiriku dengan murka
aku yang lemah tak berdaya hanya bisa menatapnya
bertanya akan murka dan amarahnya

tiada jawaban yang dia beri untukku
hanya senyum pahit yang menyiksa batinku
aku coba untuk meraih senyumnya yang hilang
tp dia tak memberikan aku izin untuk itu

semakin aku mencoba dekati, semakin dia menjauh
semakin aku bertanya, semakin dia acuhkan aku
tapi aku selalu tersenyum akan tingkahnya yang lucu itu
karena aku tau, betapa dia berharga bagiku

Sekarang, saat aku mulai terbiasa dengan hadirnya
dia mulai memberikan senyuman itu
dia mulai memberikan sapaan yang selama ini aku rindu
aku sungguh bahagia karena murkanya

harapanku dalam setiap lamunan pun terbayar sudah
harga diri yang lebur, mulai aku rangkai kembali
aku akan selalu menjaga hatimu, untuk aku
aku akan selalu tersenyum pada dirmu, sahabatku. . .

Tagged:

One thought on “Aku tersenyum ketika Ia Murka

  1. scouteng 17 Maret 2009 pukul 07:25

    lumayan..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: